Selasa, 1 September 2009

Ramadhan Karim..

KASIHKU PADA RAMADHAN

Ramadhan yang penuh makrifat
Ramadhan ditunggu-tunggu
kembali menjengah hati setiap Muslim
memekarkan keberkatan dan kebesaran
Yang Maha Kuasa

Ramadhan yang menyejukkan hatiku
yang melembutkan kerasku
yang mendamaikan gelodak rasaku
yang menghilangkan amarahku
yang menghadiahkan penghargaanku
buat insan-insan tersayang
yang menambahkan cinta kasihku
pada Yang Satu

Ramadhan syahrul Syiam
berikan aku kekuatan akal,
fizikal, hati dan iman
jauhkan aku daripada perkara yang dikeji
yang mengurangkan keberkatanya Mutakkabir

Ramadhan syahrul Qiyam
malam-malammu malam terindah dalam hidup
malam-malam yg penuh ibadah
malam-malam yang penuh berkat
lalu,haruskah aku membiarkan
malam-malammu berlalu sepi
tanpa sujud syukurku pada Ar-RahmanAr-Rahim

Ramadhan syahrul Quran
bait-baitmu adalah puisi agung
yang menyuntik penawar terbaik
buat hati dan jiwaku
patah perkataanmu adalah keajaiban
adalah mukjizat dengan nikmat yang tertinggi
yang menjadi peganganku
penunjuk arah dalam langkah perjalananku
yang menyalurkan kasih suciku
buat Yang Maha Agung

Ramadhan syahrul Tarbiyah
hari-harimu adalah satu didikan buatku
yang menundukkan egoku
yang menghilangkan rasa dendamku
yang menjernihkan segala keruh dihatiku
yang memupuk keinginanku
menghayati sifat kekasih Allah
yang mulia disisi-Nya

Ramadhan syahrul Jihad
pada setiap langkahku
setiap degup nafasku
setiap denyut nadiku
setiap detik ingatanku
Islam adalah matahari bagi hatiku
bulan bagi jiwaku
bintang bagi mataku

Ramadhan
perjuanganku menggapai solehah
baru bermula
pertemukan aku pada ketibaan-ketibaanmu
yang akan datang
rasa rindu dan kasih ini
akan selalu mengiringiku
sepanjang waktu
selama mana nafas masih menjadi milikku..

Ahad, 5 Julai 2009


If Prophet Muhammad (pbuh) visited you

I wonder...

If the Prophet Muhammad visited you,
Just for a day or two;
If he came unexpectedly
I wonder what you'd do.

Oh! I know you'd give your nicest room
To such an honored guest;
And all the food you'd serve to him
Would be the very best;

And you would keep assuring him,
You're glad to have him there;
Your hospitality would be beyond belief
And service beyond compare.

But... when you saw him coming,
Would you meet him at the door
With arms outstretched in welcome
To your honoured visitor?

Or... would you have to change your
Clothes before you let him in?
Or hide some magazines and put
The Quran where they had been?

Would you still watch movies
On your trusty TV set?
Or would you rush to switch it off
Before he gets upset?

Would you turn off the radio
And hope he hadn't heard?
And wish you hadn't uttered
That last loud nasty word?

Would you hide you worldly music
And instead take Islamic books out?
Could you let him walk right in,
Or would you rush about?

And, I wonder... if the Prophet spent
A day or two with you,
Would you go right on doing the things
That you always do?

Would you go right on saying the things
You always used to say?
Would life for you continue
As it does from day to day?

Would your family conversation
Keep its usual pace?
Or would you find it hard each meal
To say a table grace?

Would you keep up each and every
Prayer, forcing back a frown?
And would you always jump up early
For every prayer at dawn?

Would you sing the songs you always do
And read the books you read?
And let him know things on which
Your mind and spirit feed?

Would you take the Prophet with you
Everywhere you normally go?
Or would you , maybe, change your plan
Just for a day or so?

Would you be glad to have him meet
Your very closest friends?
Or would you hope they'd stay away
Until his visit ends?

Would you be glad to have him stay
Forever on and on?
Or would you sigh with great relief
When he at last was gone?

It might be interesting to know
The things you would do
If the Prophet Muhammad, in person,
Came to spend some time with you.


Ihsan: http://www.islamicinformation.net/2008/06/lots-of-nice-islamic-poems.html

Jumaat, 12 Jun 2009

Indahnya Qiamullai..

Qiyamullail atau yang biasa disebut juga Solat Tahajjud atau Sholat Malam adalah salah satu ibadah yang agung dan mulia , sebagai ibadah nafilah atau ibadah sunnah. Akan tetapi bila seorang hamba mengamalkannya dengan penuh kesungguhan, maka ia memiliki banyak keutamaan. Ibadah ini berat, kerana memang tidak semua muslim sanggup melakukannya. Sekiranya kita tahu keutamaan dan keindahannya, tentu kita akan berlumba-lumba untuk menggapainya. Banyak nas dalam Quran dan Sunnah yang menerangkan keutamaan ibadah ini. Di antaranya adalah sebagai berikut :

Pertama: Barangsiapa menunaikannya, bererti dia telah mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan pada sebahagian malam hari, solat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isra’:79)

Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqor menerangkan: “At-Tahajjud adalah solat di waktu malam sesudah bangun tidur. Adapun makna ayat “sebagai ibadah nafilah” yakni sebagai tambahan bagi ibadah-ibadah yang fardhu. Disebutkan bahawa solat lail itu merupakan ibadah yang wajib bagi Rasulullah SAW, dan sebagai ibadah tathowwu’ (sunnah) bagi umat baginda.” ( lihat Zubdatut Tafsir, hal. 375 dan Tafsir Ibnu Katsir: 3/54-55)

Rasulullah SAW juga bersabda: “Solat yang paling utama sesudah solat fardhu adalah qiyamul lail (solat di tengah malam).” (Muttafaqun ‘alaih)

Kedua : Qiyamul lail itu adalah kebiasaan orang-orang soleh dan calon penghuni surga. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzariyat: 15-18).

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah (yakni Abdullah bin Umar bin Khaththab RA seandainya dia solat di waktu malam.” (HR Muslim No. 2478 dan 2479).

Baginda SAW pernah menasihati Abdullah ibnu Umar RA: “Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti fulan, dia kerjakan solat malam, kemudian dia meninggalkannya.” (HR Bukhari 3/31 dan Muslim 2/185).

Ketiga : Siapa yang menunaikan qiyamul lail itu, dia akan terpelihara dari gangguan syaitan, dan dia akan bangun di pagi hari dalam keadaan segar dan bersih jiwanya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan qiyamul lail, dia akan bangun di pagi hari dalam keadan jiwanya dililit kekalutan (kejelekan) dan malas untuk beramal soleh. Suatu hari pernah diceritakan kepada Rasulullah SAW tentang orang yang tidur semalam suntuk tanpa mengingat untuk solat, maka baginda menyatakan: “Orang tersebut telah dikencingi syaitan di kedua telinganya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Rasulullah SAW juga menceritakan: “Syaitan mengikat pada tengkuk setiap orang di antara kalian dengan tiga ikatan (simpul) ketika kalian akan tidur. Setiap simpul ditiup bisikannya (kepada orang yang tidur itu): 'Bagimu malam yang panjang, tidurlah dengan nyenyak.' Maka apabila dia bangun dan menyebut nama Allah Ta’ala (berdoa), maka terurailah (terlepas) satu simpul. Kemudian apabila ia berwudhu', terurailah satu simpul lagi. Dan kemudian apabila dia solat, terurailah simpulan yang terakhir. Maka dia berpagi hari dalam keadaan segar dan bersih jiwanya. Jika tidak (yakni tidak bangun solat dan ibadah di malam hari), maka dia berpagi hari dalam keadaan kotor jiwanya dan malas (beramal soleh).” (Muttafaqun ‘alaih)

Keempat : Ketahuilah, di malam hari itu ada satu waktu di mana Allah SWT akan mengabulkan doa orang yang berdoa, Allah akan memberi sesuatu bagi orang yang meminta kepada-Nya, dan Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya bila dia memohon ampunan kepada-Nya. Hal itu sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah dalam sabda baginda: “Di waktu malam terdapat satu saat di mana Allah akan mengabulkan doa setiap malam.” (HR Muslim No. 757).

Dalam riwayat lain juga disebutkan oleh baginda SAW: “Rabb kalian turun setiap malam ke langit dunia tatkala lewat tengah malam, lalu Ia berfirman: “Adakah orang yang berdoa agar Aku mengabulkan doanya?” (HR Bukhari 3/25-26).

Dalam riwayat lain disebutkan, bahawa Allah SWT juga berfirman:

“Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya, siapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku pun akan memberinya, dan siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya.”

Hal ini terus terjadi sampai terbitnya fajar. (Tafsir Ibnu Katsir 3/54)

Kesungguhan Salafus Shalih untuk menegakkan Qiyamul lail Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahawa tatkala orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, Ibnu Mas’ud r.a mulai bangun untuk solat tahajjud, sehingga terdengar seperti suara dengungan lebah (yakni Al-Qur’an yang beliau baca dalam solat lailnya seperti dengungan lebah, kerana beliau membaca dengan suara perlahan tetapi boleh didengari oleh orang yang ada disekitarnya, sampai menjelang fajar menyingsing.

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya: “Mengapa orang-orang yang suka bertahajjud itu wajahnya paling bercahaya dibanding yang lainnya?” Beliau menjawab: “Karena mereka suka berduaan bersama Allah Yang Maha Rahman, maka Allah menyelimuti mereka dengan cahaya-Nya.” Abu Sulaiman berkata: “Malam hari bagi orang yang setia beribadah di dalamnya, itu lebih nikmat daripada permainan mereka yang suka hidup bersantai-santai. Seandainya tanpa adanya malam, sungguh aku tidak suka tinggal di dunia ini.”

Al-Imam Ibnu Al-Munkadir menyatakan : “Bagiku, kelezatan dunia ini hanya ada pada tiga perkara, yakni qiyamul lail, bersilaturrahim dan solat berjemaah.”

Al-Imam Hasan Al-Bashri juga pernah menegaskan: “Sesungguhnya orang yang telah melakukan dosa, akan terhalang dari qiyamul lail.” Ada seseorang yang bertanya: “Aku tidak dapat bangun untuk untuk qiyamul lail, maka beritahulah kepadaku apa yang harus kulakukan?” Beliau menjawab : “Jangan engkau bermaksiat (berbuat dosa) kepada-Nya di waktu siang, niscaya Dia akan membangunkanmu di waktu malam.” (Tazkiyyatun Nufus, karya Dr Ahmad Farid)

Pembaca yang budiman, inilah beberapa keutamaan dan keindahan qiyamul lail. Sungguh, akan merasakan keindahannya bagi orang yang memang hatinya telah diberi taufik oleh Allah Ta’ala, dan tidak akan merasakan keindahannya bagi siapa pun yang dijauhkan dari taufik-Nya. Mudah-mudahan, kita semua termasuk diantara hamba-hamba-Nya yang diberi keutamaan menunaikan qiyamul lail secara istiqamah. Wallahua'lam

Jumaat, 29 Mei 2009

Taubat..

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: "Barangsiapa yang beristighfar dengan sebanyak-banyaknya, Allah SWT akan bebaskan mereka daripada sebarang kesusahan, akan mendapat rezeki yang tidak diduga daripada sumber itu serta mendapat jalan penyelesaian daripada sebarang kerunsingan."

Orang yang tidak ditimpa runsing dalam kehidupannya, adalah merupakan suatu nikmat daripada Allah SWT. Berapa ramai manusia yang memiliki harta kekayaan yang banyak tetapi tidak sunyi daripada dilanda runsing. Kekadang kehidupan seseorang sederhana sahaja tetapi mereka aman daripada sebarang kerunsingan jiwa dan fikirannya.

Jika berikhtiar menghilangkan kerunsingan dengan bukan jalan Allah SWT, seperti dengan berhibur yang melampau, maka usaha itu seperti menghilangkan gatal dengan menggaru akan hilang gatal sejenak. Dengan menggaru boleh menyebabkan calar berdarah bertukar jadi kudis. Apabila kuman yang menyebabkan kegatalan aktif semula, maka gatal akan muncul kembali malah lebih parah lagi dengan munculnya kudis akibat luka digaru.

Fadilat beristighfar ialah Allah SWT akan memberi jalan penyelesaian daripada sebarang kesempitan, sama ada kesulitan hidup di dunia berbentuk kebendaan atau pemikiran dan perasaan. Fadilatnya lagi ialah dikurniakan rezeki daripada sumber yang tidak diduga. Lebih istimewa lagi jika rezeki datang mecurah pada saat amat diperlukan.

Sabda Rasulullah s.a.w. lagi yang bermaksud: "Sesungguhnya aku seorang Nabi memohon ampun dosa (istighfar) kepada Allah SWT, setiap hari sebanyak 70 kali." Meskipun Nabi s.a.w. maksum (dikawal) dosa oleh Allah SWT, namun baginda tetap memohon ampun sebanyak 70 kali saban hari.

Apakah tujuan Nabi s.a.w. mohon ampun kepada Allah SWT dalam keadaan maksum. Tujuannya ialah untuk mentarbiyah umatnya supaya tidak mengabaikan istighfar mohon supaya Tuhan ampuni dosanya. Jika Nabi s.a.w. yang maksum beristighfar 70 kali, umatnya sebagai insan biasa yang bergelumang dosa, secara logiknya mestilah mohon ampun kepada Allah SWT setiap hari lebih daripada yang dilakukan oleh Nabi s.a.w. itu.

Bagi Nabi s.a.w. yang maksum beristighfar itu bukanlah untuk mohon ampun dosa, tetapi istighfar Nabi s.a.w. ialah mohon ampun daripada perkara yang dikira silap. Ini kerana amalan baik bagi orang yang jujur (abrar) itu, masih dikira sesuatu yang buruk bagi golongan 'muqorrobin' seperti golongan para nabi itu.

Contohnya, jika melakukan solat fardu didahului dan diiringi dengan solat rawatib, juga mendirikan solat malam tahjud empat rakaat dan tiga rakaat witir, jika boleh kekalkan sudah dikira termasuk golongan 'abrar'. Tetapi sekadar itu tidak layak bagi golongan para anbiya, ia dikira berdosa bagi golongn muqarrabin jika ibadatnya sekadar itu.

Adapun istighfar yang sering diucapkan oleh Nabi s.a.w. seperti berikut: "Allahummaghfirli ma qaddamtu wama akhkhartu wama asrartu wama a'alantu wama Anta a'alamu bihi minni wa Antal muqaddimu wa Antal muakhkhir wa Anta 'ala kulli syai-in qadir." Ia bermaksud: Wahai Tuhan, ampunilah dosaku yang terdahulu dan dosa kemudian yang belum dilakukan, dosa yang kulakukan secara sulit tersembunyi dan dosa yang kulakukan secara terbuka, sebanyak mana yang Engkau ketahui. Sesungguhnya atas Engkau Yang Berkuasa penuh atas segala sesuatu."

Seorang ulama bernama Fudhul bin Akhyar berkata mengenai istighfar katanya: "Bahawa minta ampun dalam keadaan tidak menghentikan daripada berbuat dosa itu adalah taubat seorang pendusta." Apabila seseorang beristighfar bererti dia mohon ampun kepada Allah SWT, apa ertinya dia mohon ampun kalau terus melakukan dosa maksiat.

Sedangkan syarat taubat ialah insaf dan menyesal, bertekad untuk tidak melakukannya lagi. Sangat pembohong bagi seorang yang mohon ampun kepada Tuhan, tetapi tidak berhasrat uantuk meninggalkan dosa dan menyesalinya. Perbuatan itu umpama orang solat dengan memakai kain yang tercemar dengan najis, setelah dia sedar lalu digantinya dengan kain baru, sayangnya kain baru itu adalah kain curi.

Dia tinggalkan dosa diganti dengan dosa yang lain pula. Apakah ertinya itu jika dia tidak sedar sedang menipu diri sendiri? Seorang wali besar yang masyhur dalam sejarah Islam, seorang wanita bernama Rabi'ah Al-'Adawiyyah berkata: "Sesungguhnya minta ampun bukan sekadar kerana berdosa, tetapi istighfar kerana kesalahan minta ampun daripada taubat yang tidak memenuhi syarat taubat itu."

Ertinya adalah dianggap satu dosa bagi orang minta ampun (istighfar) dalam keadaan dia tetap melakukan dosa, kerana sepatutnya dia menyesal serta berazam untuk tidak lakukannya lagi. Beristighfar dalam keadaan demikian bererti dia sedang berdusta, seolah-olah mempermain-main dengan Allah SWT dengan istilah taubat.

Bertaubat dalam suasana demikian lebih buruk daripada melakukan dosa yang sebenar, kerana taubat seperti itu merupakan suatu dosa yang perlu bertaubat semula kerana bertaubat yang menyalahi syarat taubat. Inilah taubat manusia pendusta terhadap Tuhan.

Semoga kita menjadi hamba Allah yang sentiasa basahi lidah dengan kata-kata taubat..amin!!

Ihsan: Tuan Guru Dato' Nik Abdul Aziz bin Nik Mat

Isnin, 25 Mei 2009

Mohon Cinta Agung..


Lagi tazkirah menarik dari Tuan Guru Dato' Nik Abdul Aziz Nik Mat. Moga berguna buat kita semua..
Firman Allah SWT yang bermaksud: "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?" (Surah Ali Imran ayat 135)

Istighfar bererti minta ampun kepada Allah SWT. Istighfar juga bererti minta ditudung (ditutup) segala kesilapan atau kesalahan. Minta dilindung supaya ketika dibangunkan dari kubur di Mahsyar kelak, segala keaiban tidak terdedah kepada umum.

Dalam ayat 135 surah Ali Imran, Tuhan menjelaskan sifat baik di kalangan orang beriman yang 'ashi, apabila melakukan perkara keji atau menganiaya dan dedah diri kepada bahaya api neraka. Lalu ingat dan mohon ampun (istighfar) kepada Allah SWT minta ditudung dosanya. Sesal kepada Tuhan kerana derhaka kepada-Nya, dengan anggota yang dikurnia oleh Allah SWT.

Menderhaka dengan mata kerana memandang perkara yang haram. Menderhaka dengan lidah kerana mengumpat serta berkata perkara haram. Derhaka dengan mulut kerana makan rezeki yang haram. Semua anggota tubuh badan adalah kurniaan Tuhan, yang sepatutnya digunakan untuk taat dan berbakti kepada-Nya, bukan sebaliknya.

Firman-Nya lagi yang bermaksud: "Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia mohon ampun kepada Allah, nescaya dia mendapati Allah Maha Pengangampun lagi Maha Penyayang." (Surah An-Nisa ayat 110)

Pada ayat tersebut menjelaskan bahawa orang yang telah melakukan kejahatan atau menzalimi diri, kemudian ingat kepada Allah SWT dan beristighfar akan mendapati bahawa Allah SWT itu satu Zat yang sangat suka mengampunkan dosa, serta amat Kasihan Belas kepada manusia.

Mukmin yang 'ashi (derhaka) hendaklah berkeyakinan bahawa dosanya akan diampun dan dilindung daripada pandangan orang ramai, dengan syarat mereka menyesali dan taubat bermula daripada hati yang telah insaf. Sepenuh hati berazam tidak melakukan dosa lagi, lantas lisannya menyebut 'Astaghfirullah' atau 'Lailaha illa anta inni kuntu minaz zolimin' atau Allahummaghfirli wa liwalidaiyya. Atau katalah apa saja yang menunjukkan mereka tidak akan mengulangi kesalahan dan kesilapan yang telah dilakukan.

Insya-Allah, Tuhan akan terima taubat dan ditudungnya dosa mereka. Diberi keupayaan menentangnya ketika hati teringin melakukannya. Timbul rasa malu dan gerun, akhirnya akan jadi manusia yang patuh dan taat kepada Allah SWT.

Firman Allah SWT yang bermaksud: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun." (Surah An-Nashr ayat 3)

Segala kerja bermula daripada anggota zahir atas dorongan hati. Jika bertasbih dan beristighfar terbit daripada sanubari insaf, hasil daripada sikap tersebut dalam jangka masa yang tidak lama, akan terbit rasa malu kepada diri untuk mengingkari istighfar yang diucapkan.

Firman Allah SWT lagi yang bermaksud: "Dan yang memohon ampun pada waktu sahur (sebelum fajar)." (Surah Ali Imran ayat 17)

Sifat orang mukmin ialah mereka berusaha bangun sebelum fajar untuk beristighfar kepada Allah SWT. Boleh beristighfar pada siang hari, tetapi kemungkinan beristighfar sekadar meniru orang lain. Adapun bangun sebelum fajar adalah lambang keikhlasan kepada Allah SWT, ini kerana kebanyakkan manusia masih lena tidur. Sesetengah sifat orang mukmin ialah hanya sedikit tidurnya pada waktu malam. Orang yang berkeadaan begini pada siang harinya tak mungkin melakukan perkara yang bertentangan dengan syariat Allah SWT.

Sebaliknya jika seseorang beristighfar dan berzikir pada waktu malam kerana tarik perhatian jiran sebelah, supaya jirannya tahu dia bangun beramal waktu malam, nescaya tiada kesan yang positif pada siang harinya, kerana dia beramal sekadar tarik perhatian manusia.

Rasulullah s.a.w. amat gemar beristighfar dengan: "Subhanaka Allahumma wa bihamdika Allahumma Ighfirli. Innaka Antat-Tauwwabur Rahim" Yang bermaksud: "Maha suci Engkau (daripada sifat kekurangan), ya Allah Tuhanku, dan aku memuji Engkau wahai Tuhanku ampunilah (segala dosa)ku. Sesungguhnya Engkau Amat penerima taubat lagi Maha Penyayang."

Lafaz istighfar hanya dihujung kalimah berbunyi "Ighfirli", tetapi dimulai dengan kata kata sanjungan dan bunga pujian. Iaitu tasbih mensucikan Allah SWT dari segala sifat kekurangan dan kelemahan. Bertahmid memuji-Nya dengan segala Kemuliaan yang tidak terhingga.

Sebelum meminta sesuatu dari Tuhan lebih dahulu memuji-Nya dengan kata sanjungan. Inilah kaedah yang amat disukai oleh Allah SWT kerana meletakkan-Nya di tempat paling suci dan mulia, sesuai dengan sifat Keagungan Zat-Nya.

Justeru jika seseorang itu rajin bertasbih menyebut 'Subhanallah' dengan penuh kesedaran, misalnya menyebut 'Subhanallah' yang bermaksud Maha Suci Allah dari kejahilan, bererti Dia-lah Tuhan yang Maha Berilmu. Sebut berulangkali 'Subhanallah' Maha Suci Allah dari sifat kelemahan yang lain, bererti Dia-lah Tuhan penuh dengan segala sifat Kesempurnaan. Sanjunglah Allah SWT dengan tasbih dan tahmid.

Isnin, 27 April 2009

Hati Mati..

Hati adalah organ paling utama dalam tubuh manusia dan adalah nikmat paling agung yang diberikan oleh Allah. Hati menjadi tempat Allah membuat penilaian terhadap hamba-Nya. Pada hatilah letaknya niat seseorang. Niat ikhlas itu akan diberi pahala. Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik agar tidak rosak, sakit, buta, keras dan lebih-lebih lagi tidak mati. Sekiranya berlaku pada hati keadaan seperti ini, kesannya membabitkan seluruh anggota tubuh manusia. Akibatnya, akan lahir penyakit masyarakat berpunca daripada hati yang sudah rosak itu.

Justeru, hati menjadi amanah yang wajib dijaga sebagaimana kita diamanahkan menjaga mata, telinga, mulut, kaki, tangan dan sebagainya daripada berbuat dosa dan maksiat. Hati yang hitam ialah hati yang menjadi gelap kerana bergelumang dengan dosa. Setiap dosa yang dilakukan tanpa bertaubat akan menyebabkan satu titik hitam pada hati. Itu baru satu dosa. Bayangkan bagaimana kalau 10 dosa? 100 dosa? 1,000 dosa? Alangkah hitam dan kotornya hati ketika itu.

Perkara ini jelas digambarkan melalui hadis Rasulullah yang bermaksud: "Sesiapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu daripada hatinya. Jika dia tidak bertaubat maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam." (Hadis riwayat Ibn Majah)

Hadis ini selari dengan firman Allah bermaksud: {"Sebenarnya ayat-ayat Kami tidak ada cacatnya, bahkan mata hati mereka sudah diselaputi kotoran dosa dengan sebab perbuatan kufur dan maksiat yang mereka kerjakan." } (Surah al-Muthaffifiin, ayat 14).

Hati yang kotor dan hitam akan menjadi keras. Apabila hati keras, kemanisan dan kelazatan beribadat tidak dapat dirasakan. Ia akan menjadi penghalang kepada masuknya nur iman dan ilmu. Belajar sebanyak mana pun ilmu yang bermanfaat atau ilmu yang boleh memandu kita, namun ilmu itu tidak masuk ke dalam hati, kalau pun kita faham, tidak ada daya dan kekuatan untuk mengamalkannya.

Dalam hal ini Allah berfirman yang bermaksud: {"Kemudian selepas itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Pada hal antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya dan ada pula antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya. Dan ada juga antaranya yang jatuh ke bawah kerana takut kepada Allah sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan."} (Surah al-Baqarah ayat 74)

Begitulah Allah mendatangkan contoh dan menerangkan batu yang keras itu pun ada kalanya boleh mengalirkan air dan boleh terpecah kerana amat takutkan Allah. Oleh itu, apakah hati manusia lebih keras daripada batu hingga tidak boleh menerima petunjuk dan hidayah daripada Allah. Perkara paling membimbangkan ialah apabila hati mati akan berlaku kemusnahan amat besar terhadap manusia. Matinya hati adalah bencana dan malapetaka besar yang bakal menghitamkan seluruh kehidupan. Inilah akibatnya apabila kita lalai dan cuai mengubati dan membersihkan hati. Kegagalan kita menghidupkan hati akan dipertanggungjawabkan Allah pada hari akhirat kelak.

Kenapa hati mati? Hati mati kerana tidak berfungsi mengikut perintah Allah iaitu tidak mengambil iktibar dan pengajaran daripada didikan dan ujian Allah.
Allah berfirman bermaksud: {"Maka kecelakaan besarlah bagi orang yang keras membatu hatinya daripada menerima peringatan yang diberi oleh Allah. Mereka yang demikian keadaannya adalah dalam kesesatan yang nyata."} (Surah al-Zumar ayat 22)

Hati juga mati jika tidak diberikan makanan dan santapan rohani dengan sewajarnya. Kalau tubuh badan boleh mati kerana tuannya tidak makan dan tidak minum, begitu juga hati. Apabila ia tidak diberikan santapan dan tidak diubati, ia bukan saja akan sakit dan buta, malah akan mati akhirnya. Santapan rohani yang dimaksudkan itu ialah zikrullah dan muhasabah diri. Oleh itu, jaga dan peliharalah hati dengan sebaik-baiknya supaya tidak menjadi kotor, hitam, keras, sakit, buta dan mati. Gilap dan bersihkannya dengan cara banyak mengingati Allah (berzikir).

Firman Allah bermaksud: {"Iaitu orang yang beriman dan tenteram hati mereka dengan mengingati Allah. Ketahuilah! Dengan mengingati Allah itu tenang tenteramlah hati manusia."} (Surah al-Ra'd ayat 28)

Firman-Nya lagi bermaksud: {"Hati yang padanya harta benda dan anak-anak tidak dapat memberikan sebarang pertolongan, kecuali harta benda dan anak-anak orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera daripada syirik dan munafik."} (Surah al-Syura ayat 88-89)

Tanda-tanda hati mati Menurut Syeikh Ibrahim Adham, antara sebab atau tanda-tanda hati mati ialah:
  • Mengaku kenal Allah SWT, tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya.
  • Mengaku cinta kepada Rasulullah s.a.w., tetapi mengabaikan sunnah baginda.
  • Membaca al-Quran, tetapi tidak beramal dengan hukum-hukum di dalamnya.
  • Memakan nikmat-nikmat Allah SWT, tetapi tidak mensyukuri atas pemberian-Nya.
  • Mengaku syaitan itu musuh, tetapi tidak berjuang menentangnya.
  • Mengaku adanya nikmat syurga, tetapi tidak beramal untuk mendapatkannya.
  • Mengaku adanya seksa neraka, tetapi tidak berusaha untuk menjauhinya.
  • Mengaku kematian pasti tiba bagi setiap jiwa, tetapi masih tidak bersedia untuknya.
  • Menyibukkan diri membuka keaiban orang lain, tetapi lupa akan keaiban diri sendiri.
  • Menghantar dan menguburkan jenazah/mayat saudara se-Islam, tetapi tidak mengambil pengajaran daripadanya.
Semoga dengan panduan yang di sampaikan itu akan dapat kita sama-sama mengambil iktibar semoga segala apa yang kita kerjakan akan diredai Allah SWT. Menurut Sheikh Ibni Athoillah Iskandari dalam kalam hikmahnya yang berikutnya; Sebahagian daripada tanda mati hati itu ialah jika tidak merasa dukacita kerana tertinggal sesuatu amal perbuatan kebajikan juga tidak menyesal jika terjadi berbuat sesuatu pelanggaran dosa.

Mati hati itu adalah kerana tiga perkara iaitu :
  • Hubbul dunia (kasihkan dunia)
  • Lalai daripada zikirullah (mengingati Allah)
  • Membanyakkan makan dan menjatuhkan anggota badan kepada maksiat kepada Allah.

Hidup hati itu kerana tiga perkara iaitu :
  • Zuhud dengan dunia
  • Zikrullah
  • Bergaul atau berkawan dengan aulia Allah
Jgalah hati, cintailah Allah, insyaAllah moga rahmah dan kasihsayangNYa menaungi hidup kita semua..amin!

Artikel ini dipetik dari www.iluvislam.com, tulisan Ustaz Zianudin Hashim.

Isnin, 20 April 2009

Tangisan Cinta..


Setiap manusia pasti menangis di sesetengah waktu dalam hidupnya. Ada yang menangis kerana sedih dan ada pula sebaliknya. Sesetengah kita mungkin tidak sedar menangis juga boleh memberi kerugian dan sebaliknya. Sangat rugi sekiranya kita mencurahkan airmata kerana kehilangan sesuatu tanpa muhasabah hikmah di sebaliknya. Ruginya jika airmata dicurahkan kerana putus cinta dengan pasangan. Kenapa tidak airmata dicurahkan bila mengenang dosa yang kita lakukan, kenapa kita tidak menangis bila hati selalu berbuat dosa; berasa dengki, cemburu? mengapa tidak menagis bila lidah selalu berbuat dosa; mengadu domba, berbuat fitnah, memutuskan silaturrahim? dan mengapa kita tidak menangis kerana terlalu cinta pada Allah, rindu untuk bertemu denganNya? alangkah ruginya kita selama ini..

Majalah Solusi Isu No 6 banyak membincangkan tentang mencari bahagia. Salah seorang kolumnis, Ustaz Adlan Abdul Aziz* telah menyentuh tentang tangisan yang membawa keredhaan Allah. Beliau merujuk kepada kitab Riyadhus Solihin tulisan Imam al-Nawawi yang telah mengkhususkan satu bab khas tentang "Kelebihan Menangis kerana Takut dan Rindu kepada Allah."

Terdapat banyak ayat-ayat al-Quran yang menyentuh tentang kelebihan tangisan kerana takutkan Allah. Imam Nawawi memulakan bab ini dengan dua ayat al-Quran iaitu ayat 109 daripada surah al-Isra' yang bermaksud:{"Dan mereka menundukkan kepala lalu menangis. Maka itu menambahkan khusyu' pada diri mereka."}
Ayat kedua ialah ayat 59-60 daripada surah al-Najm yang bermaksud:{"Apakah dengan mendengar al-Quran ini mereka hairan? Lalu mereka ketawa dan tidak menangis?"}.

Sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, diceritakan oleh sahabat Nabi SAW, Abdullah bin Mas'ud. Beliau menceritakan, suatu hari Rasulullah SAW datang kepadanya dan menyuruh beliau membacakan ayat-ayat Quran. Abdullah bin Mas'ud kehairanan lalu berkata: adakah aku perlu membacakannya untukmu sedangkan al-Quran itu diturunkan untukmu?". Maka Rasulullah SAW menjawab: "Sesungguhnya aku suka mendengarnya daripada orang selainku." Maka beliau membaca beberapa ayat daripada surah al-Nisa'. Apabila sampai kepada ayat 41 yang bermaksud:{"Maka bagaimanakah keadaannya apabila Kami mendatangkan daripada setiap umatku itu (di akhirat) dengan seorang saksi dan Kami membawamu (wahai Muhammad) sebagai saksi kepada mereka semua."} Maka ketika itu Rasulullah SAW bersabda kepada Abdullah bin Mas'ud."Cukuplah setakat ini." Lalu Abdullah bin Mas'ud berpaling kepada Rasulullah dan beliau terlihat airmata Rasulullah SAW mengalir menangisi kerana menghayati ayat-ayat suci tersebut. Beginilah tangisan kerana mengenangkan keadaan di akhirat. Alangkah sucinya airmata itu!.

Imam al-Nawawi juga membawa hadith lain yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim berkaitan dengan khutbah yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Antara sabda Baginda:"Kalaulah kamu semua mengetahui apa yang aku tahu, pasti sedikit ketawamu dan banyak tangisanmu." Maka ketika itu, Anas bin Malik berkata:"Para sahabat ketika itu telah menutup wajah mereka dan menangis teresak-esak."
Hadith ini menunjukkan begitu mendalam kefahaman para sahabat dalam menghayati pesana n tersirat daripada Junjungan Besar Nabi Muhammmad SAW.

Dalam sebuah lagi hadith juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Dalam hadith ini Baginda SAW telah menceritakan tentang tujuh golongan yang bakal mendapat naungan Allah SWT di akhirat kelak. Bermula dengan pemimpin yang adil, orang muda yang membesar dalam ketaatan kepada Allah, seseorang yang sentiasa terpaut hatinya pada masjid, dua insan yang berkasih kerana Allah, seorang lelaki yang menolak maksiat sehinggalah seorang lelaki yang ikhlas memberikan sedekah. Dan golongan yang ketujuh menurut sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:"Seseorang yang mengingati Allah SWT seorang diri hingga mengalir airmatanya." Inilah orang yang begitu ikhlas mengingati Allah SWT dengan segala kurniaanNya lalu dia insafi pula segala kekurangan dirinya dalam mensyukuri ni'mat itu, lalu mengalir airmatanya kerana pelbagai emosi; cinta, kasih, malu dan takut kepada Allah SWT.

Mampukah kita sampai ke tahap itu? Kita memang takut pada balasan Allah hingga kita mampu meninggalkan zina, tidak minum arak, tidak meninggalkan solat. Persoalannya mampukah kita takut pada Allah hingga kita boleh meninggalkan dosa seperti umpat, keji, fitnah, hasad dengki, adu domba, memutuskan silaturrahim, lalai dengan hiburan?

Kita berdoa moga kita dikurniakan ni'mat yang tidak terhinggga ini- ni'mat tangisan kerana mengingati Allah SWT, takut dan cinta serta kasih kepada-Nya. Sesungguhnya tangisan ini tidak sia-sia dan tidak terbuang begitu sahaja. Tangisan inilah ang menyelamatkan kita di dunia ini malah ia sudah pasti ada harganya di negeri yang kekal abadi. Moga kita terdiri dalam golongan manusia yang bahagia di akhirat..amin!


* Ustaz Adlan Abd Aziz lulusan bidang Pengajian Bahasa Arab, Univ. al-Bayt, Jordan. Kini berkhidmat sebagai seorang guru di SMK Segambut Jaya, KL.

Isnin, 6 April 2009

LAILAHA ILLALLAH..


Saya sangat tertarik dengan tazkirah dari Tuan Guru Dato' Nik Abdul Aziz bin Nik Mat tentang kelebihan zikir Lailaha Illalah. Dalam tazkirah tersebut Tuan Guru ada mengulas tentang hadith Nabi SAW di mana Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:" manusia ahli Lailaha Illallah tidak akan merasa sunyi dan dukacita ketika dalam kubur dan akan bangkit daripadanya, seolah-olah mereka bangun dengan menguis tanah di atas kepalanya dengan berkata:, 'segala puji bagi Allah yang telah menyingkir perasaan sedih dan dukacita daripada hatiku, sesungguhnya Engkaulah Tuhan tempatku memohon ampun dan bersyukur.' "

Kesepian dan dukacita merupakan bala azab yang menyeksa jiwa manusia lebih-lebih lagi di alam barzakh yang keadaannya seorang diri. Bayangkan jika seseorang terdampar di gurun padang pasir, yang lengang tanpa kicau burung dan manusia. Pastinya sepi mencengkam jiwa. Tidak akan berlaku kesepian dan kesunyian di daam kubur apabila semasa hayatnya menyebut dengan ikhlas dan sebanyak mungkin kalimah Lailha Illallah.

Apabila dilazimkan berzikir Lailaha Illallah ketika ingat dan sedar, insyaAllah lidah akan sering bergetar menyebutnya ketika hati dalam situasi biasa.

Apa yang menjadi masalah adalah kelaziman bagi orang awam yang bertahlil hanya ketika berada dalam majlis rasmi di masjid atau majlis kenduri, waktu selebihnya lidah sepi tanpa zikir.

Gambaran Rasulullah tentang manusia di akhirat nanti, di mana manusia tidak tahu ke mana hendak dituju selepas dibangkitkan dari kubur, seluruh manusia berhimpun di Mahsyar. Mereka mencari Rasulullah SAW untuk mendapatkan pertolongan, tetapi tidak tahu di mana. Meskipun ramai manusia berhimpun di Mahsyar, namun mereka bagaikan tidak berteman dan masing-masing dengan urusan yang hendak diselesaikan. Sebagaimana dinyatakan firman Allah SWT yang bermaksud:"Pada hari ketika manusia lari daripada saudaranya, lari daripada ibu bapanya, daripada isteri dan anaknya, setiap daripada mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkan."(Surah 'Abasa:34-37).

Hanya dengan memperbanyakkan zikir Lailaha Illalah semasa hidup di dunia ini dengan sebutan yang ikhlas akan mendapat fadhilat yang besar dari Allah. Maksud ikhlas di sini ialah lafaz dengan penuh keyakinan bahawa tiada Tuhan yang lebih berkuasa selain Allah, tidak berkehendak kecuali kepada Allah Yang Maha Berkuasa, Maha Kaya, Maha Bijaksana. Layaklah mereka mendapat balasan syurga kerana mengucap Lailaha Illallah benar-benar bertauhid kepada-Nya. Dengan keyakinan berasaskan tauhid kepada Allah SWT akan mencapai kemuncak ni'mat.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:"Ya Abu Hurairah, segala kebajikan yang kamu buat sama ada dalam bentuk amalan atau ucapan akan ditimbang di akhirat kecuali ucapan Lailaha Illallah, tidak akan ditimbang dengan mizan biasa. Kalau ceper timbang yang sebelah di letak langit tujuh petala serta isinya, ceper yang sebelah lagi diletakkan ucapan Lailaha Illallah nescaya ia lebih berat lagi".

Rasulullah juga ada berwasiat kepada Abu Hurairah supaya mengajarkan orang yang hampir mati dengan ucapan Lailaha Illallah kerana ia akan meruntuhkan segala dosanya. Ini menunjukkan bahawa jika kalimah ini diucapkan oleh orang yang masih hidup ia lebih meruntuhkan lagi dosa-dosanya.

Oleh itu hendaklah dengan ikhlas menyebut Lailaha Illallah sebanyak mungkin sebelum seseorang itu disekat oleh takdir Allah SWT khusunya ajal.

Ahad, 5 April 2009

Mencari Cinta Agung


Alhamdulillah saya berpeluang membaca buku yang menarik dan informatif coretan Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni bertajuk "JAGALAH ALLAH... ALLAH MENJAGAMU". Buku ini telah diterjemah oleh H. Sarwedi M. Hsb, disunting oleh Noraine Abu dan diterbitkan oleh Al-Hidayah Publishers.

Saya ingin sekali berkongsi dengan anda semua tentang coretan Dr Aidh di bab pertama buku tersebut iaitu tentang Cinta yang Agung. Bagi manusia yang terlalu mengejar kehendak fizikal tanpa mengharapkan kehendak spiritual sudah tentu tak dapat merasa ni'mait cinta yang Agung. Beruntunglah bagi manusia yang sentiasa mengharapkan cinta yang Agung ini dan rugilah bagi manusia yang lansung tidak kisahkan cinta ini.

Dalam bab ini, Dr Aidh ada menerangkan tentang cara-cara bagaimana untuk meraih cinta Allah SWT. Secara kesimpulannya, ada 4 cara utama:

  1. Kitab Suci Al-Quran Al-karim;

  2. Melepaskan Dunia dan Zuhud Terhadapnya;

  3. Qiyamullai;

  4. Merenung tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

  • Dengan membaca Al-Quran;

Inilah cara yang paling besar manfa'at dan paling disukai Allah SWT kerana Al-Quran adalah kitab yang agung yang diwasiatkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam kitab Shahih Muslim, daripada Abi Umamah r.a, Rasulullah SAW bersabda: "bacalah Al-Quran kerana ia akan memberikan syafa'at kepada sesiapa sahaja yang gemar membacanya pada hari akhirat kelak".

Oleh kerana itu, Rasululllah SAW sentiasa memposisikan darjat manusia sesuai dengan kadar interaksi mereka dengan Al-Quran. Beginilah kriteria yang diajarkan oleh Islam, yang paling mulia dan yang paling utama adalah komitmen kepada prinsip 'La Ilaha Illallah' dan orang-orang yang cintakan Allah.

Rasulullah SAW ada bersabda (daripada Abdullah bin Abbas r.a): "sesungguhnya orang yang tidak ada sama sekali Al-Quran di dalam dirinya, bagaikan rumah yang hancur lebur". Inilah yang digambarkan oleh Rasulullah bagi manusia yang tidak meraih cinta Allah dengan Al-Quran. Hati yang tidak sedikit pun diisi dengan keindahan Al-Quran akan terisi dengan kemunafikan, kebingungan, kesedihan, keresahan dan kehausan cinta yang Agung. Baginda SAW adalah orang paling banyak tersentuh hatinya dan sangat prihatin pada Al-Quran.

Inilah cara pertama yang dapat saya katakan cara yang paling mudah untuk meraih cinta Allah. beruntunglah bagi manusia yang sentiasa hidup dengan Al-Quran, berinteraksi dengannya, mentaddaburinya dan mengulang-ulanginya serta menagamalkan nya. Semoga kita tergolong dalam golongan yang meraih cinta yang Agung ini dengan Al-Quran..amin!!


  • melepaskan dunia dan zuhud terhadapnya.

Ramai yang silap sangka dengan pengertian zuhud terhadap dunia. Ramai yang menyangka yang kita harus meninggalkan kehendak fizikal secara total. Pengertian zuhud yang sebenar adalah dengan mengambil sesuatu yang bermanfa'at daripada dunia ini sehingga tidak terlalu sibuk dengannya dan lalai terhadap tuntutan akhirat.

Allah berfirman dalam Al-Jathiyah:23:"{maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmuNya (maksudnya; bahawa Allah membiarkan orang itu sesat kerana Allah telah mengetahui bahawa dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya)...}".

Allah mengambarkan di sini betapa ruginya golongan yang bertuhankan hawa nafsu hingga lalaikan Tuhan yang satu. Golongan ini bukan sahaja jauh dari cinta Allah malah jauh dari perhatianNya.

Rasulullah ada bersabda dalam hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah daripada Sahl bin Sa'ad r.a:"bersikap zuhudlah kamu terhadap kehidupan dunia ini, nescaya Allah akan mencintaimu dan bersikap zuhudlah kamu terhadap sesuatu yang dimiliki oleh manusia, maka manusia akan akan mencintaimu."

Ini adalah salah satu peringkat yang paling agung dalam meraih cinta Allah, dengan mengeluarkan kecintaannya terhadap dunia dari dalam hatinya dan digantikan dengan kecintaan kepada Allah semata-mata. Rasulullah SAW sentiasa mengingatkan kita semua supaya berwaspada dengan kecintaan dan penghambaan yang total kepada dunia. Ramai di kalangan manusia yang menjadi hamba harta, hamba kemewahan dan ada juga yang menjadi hamba pangkat dan jawatan tanpa mengambil kisah tentang kehambaan pada Allah.

  • Qiyamullai

Allah SWT menggambarkan salah satu karekteristik hambaNya yang bertaqwa adalah yang gemar melakukan Qiyamullai seperti dalam firmanNya: "{di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohon keampunan di waktu pagi sebelum fajar}". (Adz-Dzariyat:17-18).

Qiamulallai boleh kita laksanakan walaupun hanya melakukan solat sunat dua raka'at sebelum waktu subuh tiba agar kita termasuk dalam golongan orang-orang yang sentiasa mengharapkan cinta Allah SWT. Daripada Abu Hurairah r.a berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda:"Allah SWT turun ke langit dunia, tatkala sepertiga malam masih tersisa, Allah menyeru:"Adakah di antara hambaKu yang berdoa kepadaKu, supaya Aku mengabulkan permintaannya?Adakah di antara hambaKu yang meminta ampun kepadaKu, supaya Aku mengampuninya? Adakah di antara hambaKu yang meminta kepadaKu, supaya Aku memenuhinya."

Qiyamullai merupakan salah satu sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan sebagai lambang kejayaan Islam. Kalau kita sudah kehilangannya, maka kita akan kehilangan nilai-nilai keimanan, muhasabatun nafs, ni'mat ibadah dan cinta kepada Allah.


  • Merenung tanda-tanda kebesaran Allah.

Allah berfirman:"{Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (iaitu) orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami daripada seksa neraka.}"(Ali-'Imran:190-191).

Perenungan dan penghayatan adalah cara yang penting untuk menuju kepada penghambaan yang hakiki kepada Allah SWT. Inilah bentuk ibadah orang-orang yang berbahagia yang sentiasa merenungi tanda-tanda kebesaran Allah yang nyata di samping merenungi betapa ajaib dan indahnya Tuhan langit dan bumi.

Itulah antara cara-cara meraih cinta Allah. Anda semua boleh mendapatkan buku tersebut untuk mendapatkan ulasan yang lebih terperinci. Semoga kita semua termasuk dalam golongan yang sentiasa meraih cinta yang Agung dan Hakiki..amin.

Jumaat, 3 April 2009

Mencari Bahagia Hakiki...


Ada satu artikel menarik tentang kebahagiaan yang dikutip dari www.islamonline.com. Kesimpulan yang dapat diambil dari artikel tersebut adalah seperti berikut:

  • Kebahagiaan yang hakiki adalah pada kebahagiaan rohaniah. Manusia takkan dapat cari kebahagiaan dan ketenangan sekiranya hanya mengejar kehendak fizikal tanpa memenuhi kehendak spititual.

  • Kebahagiaan spiritual hanya dapat diperolehi dengan mengenal Allah.
  • Mengenal Allah adalah dengan mengenali diri sendiri;siapa kita? kenapa kita di sini? ke mana kita selepas ini? apa yang kita cari?
  • Ramai orang terpedaya dengan pesona material. Mereka menyangka mereka bahagia, namun umpama meminum air di lautan semakin diminum semakin haus.

Anda boleh baca artikel tersebut di bawah ini:

Each individual is equipped with sublime emotions, has a natural disposition toward virtue, and is fascinated with eternity. Even the most wretched-looking person has a rainbow-like atmosphere in his or her spirit comprised of the thought of eternity, love of beauty, and virtuous feeling.

If people can develop these most basic, inherent elements of their being, they can rise to the highest ranks of humanity and attain eternity.

People are true human beings not in the mortal, material aspect of their existence, but rather in the attraction of their spirits to eternity and in their efforts to find it. For this reason, those who disregard their innate spiritual aspect and concentrate only on their physical existence will never find true peace and contentment.

The happiest and most fortunate people are those who are always intoxicated with ardent desire for the worlds beyond. Those who confine themselves within the narrow and suffocating limits of their bodily existence are really in prison, even though they may be living in palaces.

Our first and foremost duty is to discover ourselves and then turn toward our Lord through the illuminated prism of our nature. Those who remain unaware of their true nature, and who therefore cannot establish any contact with their Most High Creator, spend their lives like coolies who are ignorant of the treasure they are carrying on their backs.

All human beings are essentially helpless. However, they discover an extraordinary competence by depending on the infinitely Powerful One, for this dependence transforms them from a drop into a waterfall, a particle into a sun, and a beggar into a king.

Our familiarity with the "book" of existence and events, and our establishment of a unity between ourselves and that book, causes sparks of wisdom to appear in our hearts. We begin to recognize our essential nature and obtain knowledge of God through the light of those sparks. Finally, we reach God.

To attain this goal, however, we must not set out this (mental) journeying with a mind conditioned by (biased and prejudiced toward) atheism and materialism. Those who are truly human interact with other living beings in the consciousness of personal duty to them and within the limits of need. Those who abandon themselves to bodily desires and pleasure go beyond what is allowed, and therefore cannot maintain the proper distance or balance between duty and desire.

Khamis, 2 April 2009

Mengajar Anak Mengenal Tuhan

Sejak bila seseorang itu perlu dikenalkan dengan Allah? Jawapannya, sejak kanak-kanak lagi. Di sini ada satu artikel menarik tentang perkara asas dalam pendidikan anak (Bagaimana dengan keluarga anda?). Artikel ini dikutip daripada blog AbiMuslih MamaFarhah:

Dalam tulisan kami yang lepas, kami telah catatkan betapa signifikannya pendidikan iman–dan betapa ramai ibu bapa Muslim yang cuai dalam mendidik iman. Hari ini ingin kami memberikan lima lima garis besar pendidikan iman yang sewajarnya menjadi pedoman setiap ibu bapa.

Pertama, jadikan perkataan syahadah iaitu La ilaha illa Allah sebagai kalimah awal yang didengari dan disebut oleh anak-anak. Seruan ini terbukti dalam gesaan Baginda SAW agar anak-anak di sambut menjelang kelahiran dengan kalimah-kalimah azan, yang turut mengandungi ucapan syahadah.

Selain dari azan, para ibu bapa juga harus berikhtiar agar anak-anak mampu menyebut perkataan ‘Allah’. Di samping anak-anak diajar perkataan-perkataan ‘susu’, ‘air’, ‘mama’, ‘abah’ atau sebagainya, ajarlah bersama-sama perkataan ‘Allah’.

Walau pun sebutannya agak sukar di peringkat awal, namun kebolehan anak itu menyebut perkataan ‘Allah’ akan menjadi satu tapak kukuh dalam usaha tarbiyah keimanan. Bahkan, perkataan ‘Allah’ ini tentunya merupakan zikir mempunyai kelebihan yang boleh membawa kepada ketenangan dan keceriaan kepada anak-anak, atau mungkin seribu macam kehebatan yang kita tidak sedari.

Selepas dibiasakan perkataan ‘Allah’, ibu bapa boleh teruskan mengajar anak-anak agar mampu menyebut kalimah syahadah. Seterusnya apabila anak-anak itu sudah boleh memahami, ibu bapa perlu pula menerangkan maksud kalimah syahadah itu dengan cara yang mudah difahami.


Kedua, Rasulullah SAW meminta agar anak-anak didedahkan dengan sempadan hidup iaitu soal halal dan haram. Anak-anak perlu didedahkan dengan istilah-istilah berikut iaitu: ‘baik’ dan ‘tak baik’; istilah ‘Allah suka’ dan ‘Allah tak suka’; istilah ‘masuk syurga’ dan ‘masuk neraka’; iatilah ‘dosa’ atau ‘pahala’; atau istilah ‘boleh’ dan ‘tak boleh’. Istilah-istilah ini bertujuan untuk memahamkan anak-anak bahawa kehidupan ini mempunyai batas-batas yang ditetapkan oleh Allah, dan setiap apa yang dilakukan mempunyai implikasi dosa pahala.
Sesetengah pihak mungkin berpandangan bahawa teknik ini akan menyekat ruang fikiran anak-anak, dan membantut pemikiran kritis dan kreatif. Pandangan ini adalah tidak tepat kerana, batas-batas yang ditetapkan kepada anak-anak ini adalah sesuatu yang bersumberkan dari Allah yang mencipta manusia.

Batasan itu bukannya sesuatu yang sengaja dicipta oleh ibu bapa dan digunakan secara sewenang-wenangnya. Bahkan ibu bapa sepatutnya menggalakkan anak-anak berfikir secara kreatif dan terbuka dalam perkara-perkara yang tidak dibataskan oleh syara’. Perlu diingat bahawa pembinaan keimanan melalui pengawasan kepada hukum Allah perlu diterapkan sejak anak masih kecil. Sikap liberal yang berlebihan akan menyebabkan anak-anak itu hilang pedoman, dan teraba-raba mencari laluan hidup apabila besar nanti.

Apa yang lebih penting, gesaan supaya anak-anak didedahkan dengan halal dan haram ini datang sendiri dari Baginda SAW yang bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas, maksudnya:
“Beramallah dengan ketaatan kepada Allah, dan jauhilah maksiat kepada Allah, dan suruhlah anak-anak kamu supaya mematuhi perintah-perintah (Allah), dan menjauhi larangan-larangan (Allah), maka itulah pemeliharaan diri kamu dan diri mereka daripada azab api neraka” (Ibnu Jarir dan Ibnu Munzir)


Ketiga, bagi mengukuhkan iman kepada Allah, Baginda SAW meminta agar ibu bapa menyuruh anak-anak beribadat sejak dari kecil lagi. Seruan ini terbukti melalui sabdanya sebagaimana riwayat daripada Ibnu Amru bin Al-Ash r.a. bahawa Baginda bersabda, maksudnya:
“Suruhlah anak-anak kamu bersembahyang pada usia tujuh tahun, dan pukullah dia demi sembahyang pada usia sepuluh tahun, dan pisahkan antara mereka di tempat tidur.” (Al Hakim dan Abu Dawud)


Keempat, Rasulullah SAW meminta agar para sahabat dan sekalian umat Islam mendidik anak-anak supaya mencintai Rasulullah SAW serta keluarga Baginda. Kecintaan kepada mereka akan mendorong anak-anak untuk mengatahui lebih lanjut kisah kehidupan Baginda dan keluarganya. Seterusnya, anak-anak akan terbuka hati untuk menjadikan Baginda dan anggota keluarganya sebagai contoh teladan dalam kehidupan.


Kelima, Baginda juga menggalakkan umat Islam untuk mengajar anak masing-masing membaca dan menghayati al-Quran. Kecintaan kepada al-Quran adalah asas kepada ketekunan dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya mengikut panduan Islam. Kelaziman bacaan al-Quran juga akan dapat mendekatkan diri anak-anak kepada Allah seterusnya menyuburkan lagi iman anak-anak.

Suruhan-suruhan Baginda SAW berkaitan mencintainya serta pembacaan al-Quran ini terkandung dalam sabda Baginda daripada Ali bin Abi Talib k.w. bahawa Nabi SAW bersabda, maksudnya:
“Ajarkanlah anak-anak kamu tiga perkara: Mencintai Nabi kamu, dan mencintai keluarganya, serta membaca al-Quran. Kerana para pembaca al-Quran berada di sisi arasy Allah bersama-sama para anbiya’Nya dan ashfiya’Nya pada hari tida naungan melainkan naungan Allah sahaja.” (Al-Tabarani)


Kesimpulannya, anak-anak memerlukan didikan dan perhatian dari ibu bapa terutamanya dari sudut tarbiyah ruhani. Dalam melaksanakan tuntutan itu, lima panduan yang diberikan ini, seharusnya menjadi rujukan utama bagi memastikan usaha tarbiyah itu berjalan dengan berkesan.
Abi Muslih & Mama Farhah